f psikoanalisa | IZTAR HERBALIS MUSLIM

CARI DI BLOG INI

psikoanalisa

Beranda Selasa, Juni 21

XV.1. SEJARAH DAN KONSEP PSIKOANALISA

Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisa ialah Sigmund freud, sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidak-sadaran dalam kepribadian. Konsep-konsep psikoanalisa banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling.

Banyak tokoh-tokoh lain yang menjadi pengikut Freud, dan mengembangkan terapi seperti Carl Jung, Otto Rank, William Reich, Karen Horney, Adler, Harry Stack Sullivan, dan sebagainya. Para pengikut ini mengoreksi dan menyempurnakan hal-hal yang mereka anggap kurang lengkap dan kurang tepat dari konsep Freud.

Pada mulanya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Konsep Freud yang anti rasionalisme menekankan motivasi tidak sadar, konflik, dan simbolisme sebagai konsep primer. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalam terhadap dorongan-dorongan itu. Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial, dan destruktif terhadap dirinya dan orang lain. Energi psikis yang paling dasar disebut libido yang bersumber dari dorongan seksual yang terarah kepada pencapaian kesenangan. Selanjutnya Freud menyebutkan dua macam libido yaitu eros sebagai dorongan untuk hidup dan thanatos sebagai dorongan untuk mati.

Teori kepribadian menurut Freud, menyangkut tiga hal yaitu: struktur, dinamika, dan perkembangan kepribadian.

XV.1.1. Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kepribadian terdiri atas tiga sistem, yaitu: id, ego, dan super ego. Ketiga sistem ini mempunyai fungsi, sifat, prinsip kerja dan dinamika sendiri-sendiri. Walaupun demikian ketiganya mempunyai hubungan yang sangat erat dan sulit untuk memisahkanya satu persatu, karena tingkah laku seseorang merupakan hasil pengaruh dari aspek sistem tersebut. Sekedar untuk mengenalnya dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut.
     
·         dari dalam Id
Id adalah aspek biologis yang merupakan sistem kepribadian yang asli. Id merupakan dunia subyektif manusia yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif, dan berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir seperti insting. Id mempunyai energi yang dapat mengaktifkan ego dan super ego, dan energi id dapat meningkat oleh perangsang maupun dari luar. Apabila energi meningkat selalu menimbulkan ketegangan atau perasaan tidak enak, maka id mereduksikan energi tersebut untuk menghilangkan rasa tidak enak itu.
Dapat kita lihat bahwa id berfungsi menghindarkan diri dari ketidaksenangan dan mencari atau menjadikan kesenagan atau kepuasan. Ada dua cara id menghilangkan rasa tidak enak atau mencari kepuasan tersebut yaitu: (a) dengan refleks atau reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, mengedipkan mata, dan sebagainya, (b) dengan proses primer, misalnya pada waktu lapar, maka id membayangkan ada makanan yang lezat.
Apabila id tidak dapat memenuhi kebutuhan, maka perlu sistem lain yang benar-benar dapat menghubungkan pribadi dengan dunia obyektif/nyata.
·               Ego
Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan. Ego berprinsip mereduksikan ketegangan yang timbul dalam organisme sampai ada benda nyata yang sesuai. Jadi ego mempunyai prinsip kenyataan, dan melanjutkan proses primer dengan proses sekunder. Proses sekunder ialah usaha menemukan atau menghasilkan sesuatu yang nyata, yang dimulai dengan merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan (reality testing). Perbedaan pokok antara id dan ego yaitu kalau id mengenal bayangan dunia subyektif, sedangkan ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada didalam subyektif dan sesuatu yang ada di dunia obyektif.
Selain dari hal di atas, ego berfungsi pula mengontrol dan mengendalikan jalan-jalan yang ditempuh id dalam memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi, cara-cara memenuhinya dan memilih obyek-obyek yang dapat memenuhi kebutuhan. Didalam melaksanakan fungsi ini, ego selalu mempersatukan pertentangan-pertentangan antara id dan super ego dengan dunia obyektif.
·         Super ego
Super ego merupakan aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat yang ada di dalam kepribadian individu. Super ego mengutamakan kesempurnaan dari  kesenangan dan yang pokok apakah sesuatu  itu salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dengan demikian pribadi bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
Fungsi super ego dalam hubungannya dengan fungsi id, dan ego adalah:
a.       Merintangi impuls-impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang pernyataannya sangat ditentukan oleh masyarakat.
b.      Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralitas dari pada realitas.
c.       Mengejar kesempurnaan.
Dengan demikian, super ego cenderung menentang id maupun ego dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal.


XV.1.2. Dinamika Kepribadian
Freud menganggap organisme manusia sebagai suatu sistem energi yang kompleks. Energi diperoleh dari makanan (energi fisik). Berdasarkan hukum penyimpanan (conservation of energi) energi tidak dapat hilang, tetapi dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Energi fisik dapat berubah menjadi psikis. Jembatan antar energi tubuh dengan kepribadian ialah id beserta insting-instingnya.
Insting menurut Freud sebagai sumber perangsang somatis yang dibawa sejak lahir. Suatu insting adalah sejumlah energi psikis, kumpulan dari semua insting-insting merupakan keseluruhan energi psikis yang dipergunakan oleh kepribadian. Insting mempunyai empat sifat utama yaitu: sumber, tujuan. Obyek dan mendorong, Insting bersumber dari kebutuhan dan bertujuan menghilangkan sumber ketegangan yang diakibatkan karena adanya kebutuhan. Sedangkan obyek insting adalah segala aktivitas atau benda yang menyebabkan tercapainya kebutuhan. Besar atau kecilnya kebutuhan merupakan pendorong bagi insting.
Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan super ego. Oleh karena jumlah energi terbatas, maka terjadi semacam persaingan dalam menggunakan energi tersebut.
Pada mulanya id yang memiliki semua energi dan mempergunakannya untuk gerakan-gerakan refleks dan pemenuhan keinginan. Cara penggunaan energi ini disebut pemilihan obyek secara instingtif (instinctual object cathexis). Energi pada id sangat mudah berpindah-pindah sehubungan karena id tidak dapat membedakan obyek yang sesuai atau tidak, sehingga id tidak dapat memuaskan atau meredakan ketegangan. Sedangkan ego selalu berhasil dalam menemukan alat yang memuaskan, maka energi tersebut dipergunakan oleh ego dan lambat laun ego memonopoli hampir semua energi. Energi ini dipergunakan ego juga untuk menekan id agar tidak terlalu implusif, bila id terlalu berbahaya ego menggunakan suatu mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).
Dalam usaha melegakan dan mengontrol id agar memuaskan impuls yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, super ego menggunakan energi dari id. Maka akibatnya sering super ego bertentangan dengan id, sebab super ego mencegah pernyataan-pernyataan dari dorongan primitif id, terutama dorongan seksual dan agresi (dengan cara yang tidak dibenarkan masyarakat). Id dan super ego sama-sama irasional atau tidak mampu membedakan antara khayalan dengan kenyataan, hanya berbeda dalam tujuan, id hendak memuaskan impuls-impuls, sedang super ego hendak menurutkan moral masyarakat.
Semua konflik-konflik di dalam kepribadian dapat dijabarkan kembali pada pertentangan antara kedua kekuatan, yaitu antara kateksis dan anti-kateksis. Baik antara kateksis dan anti kateksis id dengan ego, ego dengan super ego maupun id dengan super ego, yang semuanya mengakibatkan ketegangan di dalam diri atau pribadi manusia.
Dari dinamika kepribadian dapat kita lihat sebahagian besar dikuasai oleh keharusan untuk memuaskan kebutuhan dengan cara berhubungan dengan obyek-obyek yang ada di dunia luar. Dalam menghadapi obyek tersebut individu tidak selamanya dengan mudah dan berhasil, tetapi selalu menemui ancaman berupa hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyakitkan, maka individu merasa cemas. Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dapat diatasinya ialah menjadi cemas.
Freud mengemukakan tiga macam kecemasan yaitu: kecemasan realistis yang bersumber pada ego, kecemasan neurotis yang sumbernya pada id, dan kecemasan moral yang bersumber dari super ego. Kecemasan realistis yang paling pokok, yaitu takut terhadap bahaya-bahaya yang datang dari luar individu, dan kedua kecemasan yang lain berasal dari kecemasan realistis ini. Kecemasan neurotis adalah kecemasan yang timbul apabila insting tidak terkendalikan, sehingga ego akan dihukum. Kecemasan moral adalah kecemasan terhadap hati nurani sendiri.
Kecemasan berfungsi melindungi individu dari bahaya, dan merupakan isyarat bagi ego segera melakukan tindakan. Apabila ego tidak dapat  menguasai kecemasan dengan cara yang rasional, maka ego akan menghadapinya dengan jalan yang  tidak realistis.


XV.1.3 Perkembangan Kepribadian
Kepribadian individu menurut Freud telah mulai terbentuk pada tahun-tahun pertama di masa kanak-kanak. Pada umur 5 tahun hampir seluruh struktur kepribadian telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebut. Freud beranggapan bahwa gangguan jiwa pada orang dewasa, pada umumnya berasal dari pengalaman pada masa kanak-kanak.
Kepribadian berkembang sehubungan dengan empat macam pokok sebagai sumber ketegangan, yaitu:
1.      Proses pertumbuhan fisiologis (kedewasaan)
2.      Frustasi
3.      Konflik, dan
4.      Ancaman.

Sebagai akibat adanya tantangan dari keempat hal tersebut, individu berusaha menemukan atau belajar cara-cara untuk meredakan ketegangan. Belajar mempergunakan cara-cara baru dalam meredakan ketegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian.
Cara-cara atau metode yang dipergunakan oleh individu untuk mengatasi frustasi-frustasi, konflik-konflik atau kecemasan-kecemasannya adalah dengan; identifikasi, pemindaan (displacement) sublimasi, mekanisme pertahanan ego dan perubahan insting-insting.
Untuk menghadapi ancaman yang menimbulkan kecemasan atau ketegangan, ego mencoba menguasai bahaya dengan mempergunakan beberapa cara pemecahan yang realistis, atau usaha meredakan kecemasan dengan mempergunakan cara-cara menolak, memalsukan atau mengaburkan kenyataan. Cara-cara yang demikian disebut mekanisme pertahanan ego, dan cara-cara tersebut adalah: penekanan atau represi, rasionalisasi, proyeksi, pembentukan reaksi, introjeksi, fantasi, fiksasi, regresi, dan pemindahan.
Perkembangan kepribadian anak mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dari sejak lahir hingga dewasa. Dari sejak lahir sampai  berumur lima tahun, adalah merupakan periode dasar yang masih belum stabil, maju meningkat pada masa pemuda dan menuju ketenangan pada masa dewasa.
Walaupun Freud membagi-bagi perkembangan atas beberapa fase namun fase-fase tersebut bukan merupakan batas yang tajam. Fase-fase perkembangan tersebut adalah:
1.      Fase oral: 0;0 s.d. 1;0 tahun, pada fase ini mulut merupakan daerah pokok dari pada aktivitas dinamis.
2.      Fase anal: 1;0 s.d. 3;0 tahun, pada fase ini kateksis dan anti kateksis berpusat pada anal (pembuangan kotoran).
3.      Fase phallis: 3;0 s.d.5;0 tahun, pada masa ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting.
4.      Fase latent: 5;0 s.d. 13;0 tahun, pada masa ini impuls-impuls cenderung untuk ada dalam keadaan tertekan.
5.      Fase pubertas: 12;0 s.d. 20 tahun, pada fase ini impuls impuls yang selama fase latent seakan-akan tertekan, menonjol dan membawa aktivitas-aktivitas dinamis kembali. Apabila aktivitas dinamis ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh ego dengan berhasil maka sampailah orang kepada fase kematangan terakhir.
6.      Fase genital: pada fase ini individu telah berubah dari mengejar kenikmatan, menjadi orang dewasa yang telah disosialisasikan dengan realitas. Fungsi yang pokok fase genital ialah reproduksi.


XV.2. GANGGUAN JIWA
Psikoanalisa membedakan dua macam gejala gangguan jiwa yaitu psikoneurose dan psikose. Psikoneurose disebabkan oleh kegagalan ego untuk mengontrol dorongan id, karena ego tidak berhasil memperoleh kesepakatan. Neurose dikelmpokan menjadi tiga yaitu: (1) Histeri, (2) psikastenia, (3) reaksi kecemasan.
Psikose digolongkan menjadi dua macam yaitu psikose fungsional dan psikose organik. Psikose fungsional terdiri dari tiga jenis yaitu: (1) manic-depressive, (2) paranoia, (3) schzophrenia. Psikose organik terdiri atas (1) involutional melancholia, (2) senile and alcoholic psychoses, (3) general parasis


XV.3. PROSES KONSELING
Tujuan konseling psikoanalitik adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontruksikan kepribadian. Konseling analitik menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidak-sadaran. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.
Satu karakteristik konseling psikoanalisa adalah bahwa terapi atau analis bersikap anonim (tak dikenal) dan  bertindak dengan sangat sedikit menunjukan perasaan dan pengalamannya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaannya kepada konselor. Proyeksi klien merupakan bahan terapi yang ditafsirkan dan dianalisa.
Konselor terutama berkenaan dengan membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara realistis.
Pertama-tama konselor harus membuat suatu hubungan kerjasama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi atau penolakan klien. Sementara klien berbicara, konselor mendengarkan dan memberikan penafsiran yang memadai. Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidak-sadaran.
Menata proses terapeutik yang demikian dalam konteks pemahaman struktur kepribadian dan psikodinamika memungkinkan konselor merumuskan masalah klien secara yang sesungguhnya. Salah satu fungsi sentral konselor adalah mengajar klien mengenai makna proses ini sehingga klien dapat memperoleh tilikan terhadap masalahnya, peningkatan kesadarannya terhadap cara-cara mengubah dan mendapatkan kontrol yang lebih rasional terhadap hidupnya.
Klien harus ada kemauan untuk menyanggupi dirinya sendiri untuk melakukan proses terapi dalam jangka panjang. Setiap pertemuan biasanya berlangsung sekitar satu jam. Setelah beberapa pertemuan tatap muka dengan konselor, klien kemudian melakukan kegiatan asosiasi bebas, yaitu klien mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Proses asosiasi bebas ini dikenal sebagai aturan yang fundamental dalam psikoanalisa.
Selama terapi, klien maju melalui tahapan-tahapan tertentu yaitu: pengembangan suatu hubungan dengan analisis, mengalami krisis penyembuhan, mendapatkan tilikan terhadap pengalaman masa lampau yang tidak disadari, pengembangan resistensi untuk lebih memahami diri sendiri, pengembangan hubungan transparansi dengan konselor, bekerja dengan hal-hal yang resistensi dan tertutup, dan mengakhiri terapi.


XV.3. TEKNIK DIAGNOSA PSIKOANALISA
Teknik-teknik dalam psikoanalisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran mendapatkan tilikan intelektual ke dalam prilaku klien, dan memahami makna gejala-gejala yang nampak. Ada lima teknik dasar dalam terapi psikoanalisa yaitu: (1) asosiasi bebas, (2) interpretasi, (3) analisis mimpi, (4) analisis resistensi, (5) analisis transferensi (pemindahan). 

(1)   Asosiasi Bebas
Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa  adalah asosiasi bebas. Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikirannya dari pikiran sehari- hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.
Asosiasi bebas adalah satu metoda pengungkapan pengalaman masa lampau  dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu. Hal ini dikenal sebagai katarsis. Katarsis secara sementara dapat mengurangi pengalaman klien yang menyakitkan, akan tetapi tidak memegang peranan utama dalam proses penyembuhan. Sebagai suatu cara membantu klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri, konselor menafsirkan makna-makna yang menjadi kunci dari asosiasi bebas. Selama asosiasi bebas tugas konselor adalah untuk mengidentifikasi hal-hal yang tertekan dan terkunci dalam ketidaksadaran. Urutan asosiasi membimbing konselor dalam pemahaman kaitan klien membuat peristiwa-peristiwa. Konselor menafsirkan materi kepada klien membimbing ke arah peningkatan tilikan ke dalam dinamika dirinya yang tidak disadari.

(2) Interpretasi
Interpretasi adalah prosedur dasar yang di gunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transferensi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan bahkan mengajar klien tentang makna prilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi. Interprestsi mengarahkan tilikan dan hal-hal yang tidak di sadari klien.
Hal yang penting adalah bahwa interpretasi harus di lakukan pada waktu-waktu yang tepat karena kalau tidak, klien dapat menolaknya. Ada tiga hal yang harus di perhatikan dalam interpretasi sebagai teknik terapi. Pertama, interpretasi hendaknya disajikan pada saat gejala yang diinprestasikan berhubungan erat dengan hal-hal yang di sadari klien. Kedua, interpretasi hendaknya di mulai dari permukaan dan baru menuju ke hal-hal yang dalam yang dapat di alami oleh situasi emosional klien. Ketiga, menetapkan resistensi atau pertahanan sebelum menginterpretasikan emosi atau konflik.

(3) Analisis mimpi
Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selama tidur pertahanan menjadi lebih lemah dan perasaan-perasaan yang tertekan muncul ke permukaan. Freud meliat bahwa mimpi sebagai ”royal road to the uncouncious”, di mana dalam mimpi semua keinginan, kebutuhan dan ketakutan yang tidak di sadari di ekspresikan. Beberapa motifasi yang tidak di terima oleh orang lain, di nyatakan dalam simbolik daripada secara terbuka dan langsung.

(4) Analisis dan interpretasi resistensi
Resistensi, sebagai satu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisa, yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk hal-hal yang tidak di sadari. Selama asosiasi bebas, atau asosiasi mimpi klien mungkin cenderung menunjukan ketidak-mauan untuk mengkaitkan pemikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan.
Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi. Sebagai ketentuan umum konselor meminta perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling nampak untuk memperkecil kemungkinan penolakan klien terhadap interpretasi.
Resistensi bukan sesuatu hal yang harus diatasi, karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistensi harus diakui sebagai alat pertahanan menghadapi kecemasan.

(5) Analisis dan Interpretasi Transferensi
Seperti halnya resistensi, transferensi (pemindahan) terletak dalam arti trapi psikoanalitik. Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat di mana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya. Kini, dalam hubungan dengan konselor, klien mengalami kembali perasaan penolakan atau permusuhan yang pernah dialami terhadap orang tuanya.


XV.4. PSIKOANALISA DALAM PERAWATAN PSIKIS
Setelah kita memahami konsep hubungan antara ID, ego dan superego maka hal ini akan menjelaskan ketika seseorang akhirnya mengalami sakit disebabkan faktor psikis. Ego yang tidak mampu memuaskan kebutuhan dasar (ID) dan kebutuhan ideal (superego) akan memunculkan ketidakpuasan yang akan terekam dalam otak. Ketidakpuasan yang terus menerus dan berakumulasi secara kompleks dan saling menguatkan akan membebani kerja otak untuk mengkoordinasikan seluruh organ yang pada akhirnya memunculkan pula ketegangan pada organ tubuh. Kondisi ini mengakibatkan imunitas tubuh rendah dan mudah dijangkiti penyakit.
Munculnya perasaan tidak nyaman dan aman akan memunculkan sikap protektif pada ego. Ini mengakibatkan ego memunculnya sikap-sikap negatif seperti : rendah diri, tidak percaya diri, penakut, benci, pemarah dan lain-lain. Sikap ini akan menyebabkan tubuh tidak dapat relax yang berkualitas. Akibat tidak didapatinya relax yang berkualitas akan menyebabkan proses self cleansing, self healing dan self protecting tidak dapat bekerja dengan optimal. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akhirnya menjadi sakit atau tidak dapat sembuh dari sakit.
Terapi yang terbaik adalah merawat ego hingga terpuaskan, selain memberikan terapi fisik dan nutrisi secara aktif . Ego harus mencapai rasa kepuasan (dalam bahasa agama: Ikhlas). Indikasi ego yang mendapat kepuasan adalah munculnya rasa menerima terhadap kondisi apapun dengan senang hati, mampu memuaskan ego orang lain. Diagnosa dengan psikoanalisa bertujuan untuk menemukan faktor-faktor dari ketidakpuasan ego.
Ego yang tidak terpuaskan akan melakukan pemuasan secara semu dengan melakukan hal-hal berikut ini :
  1. Menutupi kelemahan ;
v  Mudah tersinggung
v  Menceritakan kejelekan orang
  1. Menonjolkan kelebihan
  2. Menekan ego orang lain
v  Merendahkan orang lain
  1. Menerima diri dengan syarat ;
v  Merasakan puas kalau …
v  Merasa tak layak menerima …
  1. Menerima orang dengan syarat
  2. Menutup diri / menarik diri
  3. Tidak percaya diri

2.  NEGATIF DAN MELUKAI EMOSI :
            Akan tetapi sebaliknya pengalaman masa lalu yang penuh dengan perasaan disakiti, dikecewakan, dimarahi, dihina, diremehkan, diperlakukan tidak adil, ditekan dll TTanpa disadari terekam dan berpengaruh terhadap reaksi negatif  dikemudian hari seperti : Pencemas, pemarah, penakut, tak percaya diri, menarik diri, sombong, perfeksionis dll. Meskipun pada masa mendatangnya bisa meraih kesuksesan dalam materi, karir, dan keluarga akan tetapi sulit merasakan ketenangan dan kebahagiaan.

Berikut adalah diagram pengaruh Trauma yang terjadi pada masa lalu yang memberikan luka emosi sehingga menimbulkan berbagai sikap-sikap negatif pada masa kini.

Rounded Rectangle: - Grogi/ragu-ragu         - Takut salah
- Cemas           - Takut gagal
- Pemarah/Mudah tersinggung           - Takut diremehkan
- Sombong                       - Takut disepelekan
- Cemburu                - Takut ditinggalkan
- Sulit menolak         - Takut mengecewakan
- Menarik diri          - Takut kecewa
- Perfect          - Takut kecewa 
                dan mengecewakan
- Iri      - Takut ditinggalkanRounded Rectangle: POLA TAK PERCAYA DIRIRounded Rectangle: TAKUT TAK DIHARGAI/DIREMEHKAN











KETEGANGAN
 
 





Sistem ego memiliki sistem perlindungan terhadap tekanan dan ketegangan yang muncul sehingga cenderung memunculkan perasaan negatif.
Terapi yang kita lakukan untuk dapat merubah ego adalah dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Menerima diri tanpa syarat 
      • nyaman dengan kekurangannya
      • puas/senang dengan kelebihannya
  1. Merasa layak / senang dengan pemberian orang lain
  1. Memberi dengan senang hati / sepenuh hati
      • Memberi sebagai kebutuhan :
        ekspresi rasa berarti
        ekspresi rasa tertarik, cinta, kasihan
      • Memberi tanpa syarat ( ikhlas )
      • Membayangkan orang yang diberi senang / puas
      • Membayangkan mendapatkan pahala dari Allah
  1. Mencintai diri sendiri
            -           jangan berkata negatif
            -           support dengan kata-kata positif
            -           senang dengan apa yang telah dicapai ( bersyukur )

Dalam psikoanalisa, pengalaman masa lalu memiliki pengaruh terhadap kondisi hari ini.
  1. POSITIF DAN MENYENANGKAN.
            Pengalaman masa lalu yang penuh dengan kasih sayang, diperhatikan, dihargai dan penuh dukungan serta pujian tanpa disadari direkam dan akan memunculkan reaksi positif dikemudian hari seperti :
            Penuh Percaya diri, pemberani, toleransi, menghargai, penyayang dll
           
            Hal ini akan menumbuhkan pribadi yang tenang dan bahagia.

Seorang terapis harus menciptakan citra diri positif pada diri pasien. Hal ini akan membantu pasien menyelesaikan konflik internal dan mempercepat kesembuhan. Citra diri positif tersebut meliputi :
Ø  Arif dan bijaksana
Ø  Pengertian, Memaklumi
Ø  Tenang dan Percaya Diri
Ø  Rendah hati
Ø  Pemaaf dan Sabar
Ø  Ramah dan Murah senyum
Ø  Peduli, Penolong
Ø  Semangat, Antusias
Ø  Optimis, Berorientasi ke solusi
Ø  Bersyukur
Ø  Ikhlas dan Taat Beribadah

Citra diri positif diatas akan mampu mengubah perasaan negatif menjadi perasaan positif. Berikut ini tabel berbagai perasaan negatif yang biasa muncul ketika menghadapi kondisi yang tidak diharapkan. Dan disebelah kanannya merupakan perasaan positif yang diharapkan ketika menghadapi kondisi tersebut.
PERASAAN NEGATIF
PERASAAN POSITIF
            MENYESAL / SEDIH
            KHAWATIR / CEMAS
            KECEWA
            KERAGUAN
            GELISAH
            SOMBONG
            MENGELUH
            IRI, DENGKI
            TIDAK PERCAYA DIRI
            PESIMIS / PUTUS ASA
            PRASANGKA BURUK
            TAKUT
            BENCI
            KESAL, JENGKEL
            CEMBURU
            MERASA MEMILIKI
            MERASA KEWAJIBAN
            MENGAMBIL HIKMAH
            BERSERAH DIRI
            MEMAKLUMI, PUAS
            KEPASTIAN
            KETENANGAN
            RENDAH HATI / MERASA SAMA
            BERSYUKUR
            MENELADANI, MEMUJI
            PERCAYA DIRI
            OPTIMIS
            PRASANGKA BAIK
            BERANI
            SAYANG
            KASIHAN
            MENDUKUNG
            MERASA TITIPAN
            MERASA KEBUTUHAN



Berikut merupakan rangkaian stimulus yang dapat dilakukan untuk dapat mengontrol ketegangan pada psikis akibat tekanan luar pada sistem ego manusia.
§  Hiduplah saat ini, bukan kemarin atau esok
§  Mengingat kejadian yang positif
§  Setiap bangun pagi rasakan hari ini adalah hari yang menyenangkan
§  Pertahankan channel pikiran senantiasa di posisi positif
§  Hayati setiap aktifitas
§  Perbanyak rasa bersyukur
§  Rasakan kedekatan dengan Allah
Rangkaian stimulus diatas harus selalu diulang-ulang untuk meyakinkan sistem ego sehingga sifat protektifnya hilang dan perasaaan negatif dapat berubah menjadi perasaan positif.


XV.5. KESIMPULAN
Dalam melakukan perawatan kepada pasien perlu memahami tentang pengaruh psikis terhadap kesehatan. Pengaruh psikis 90% dibandingkan fisik menyebabkan pasien yang berawal dari penyakit fisik pun tak dapat diobati ketika telah mempengaruhi kestabilan psikisnya. Perasaan negatif yang muncul pada sistem ego dapat menyebabkan sulitnya penyembuhan pada diri pasien. Dengan mempelajari keunikan kerja sistem ego kita dapat mengembalikan perasaan negatif yang terekam menjadi positif dan memberi pengaruh pada kesehatan pasien. Dengan selalu merasakan keberlimpahan di setiap saat akan mampu menciptakan perasaan positif pada sistem ego dan mengakibatkan kesembuhan pada pasien.







Literatur :
  1. Muhammad Surya, Prof. DR. H., Teori-teori Konseling, 2003. Pustaka Bani Quraisy.
  2. H. Ismail bin H. Ahmad, Buku Panduan Intibah Seri III, 2004. Institut Latihan Herba AlWahida Sdn. Bhd.
  3. Abu Sangkan, Pelatihan Sholat Khusyu’, 2004. Baitul Ihsan
  4. Mind Body & Soul. Intisari Edisi April 2005.
  5. Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah. AthThibbun AnNabawi. 2002
  6. Lianny Hendranata. Melepaskan diri dari Kanker. 2004. Nirmala
  7. dr. Carli. Pembersihan Rekaman Pola Negatif. 2004.
  8. Phyllis A. Balch, CNC. Prescription for Nutritional Healing. 2000. Avery
  9. John Kehoe, Mind Power. 2004. Dahara Press
  10. Agus EH. Usaha Tanpa Gagal. 2005. Lukman Offset

Terima kasih kawand sudah membaca...!! psikoanalisa dan sempatkan untuk membaca yang lainnya ya kawand..!!!!

masih 0 Tanggapan untuk psikoanalisa

Posting Komentar

__::jangan lupa baca bismilah truz tinggalkan jejak yach::__

......boleh berkomentar bebas, tapi dilarang menyinggung orang lsen.......

<<<<<>>>>>>

-Kritik & Saran Disini-

WARNING...!!!

saya menulis blog ini hanya untuk berbagi ilmu dan pembelajaran semata harap digunakan dengan bijak, dan slalu berfikir positif..... bila ada phak yang merasa keberatan dengan blog saya kamu minta maaf sebesar-besarnya...




TERIMA KASIH..!!

..::TERLARIS::..

komentar terakhir

..::jumlah Visitor minggu ini::..

TOP-RATING
iztar herbalis muslim™. Diberdayakan oleh Blogger.
 
powered by FACEBOOK and IZTAR HERBALIS MUSLIM all rights reserved